Tampilkan postingan dengan label Architecture. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Architecture. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 26 Januari 2013

Antara AMDAL dengan UKL dan UPL


Apa itu AMDAL, UKL dan UPL?

1.       Pengertian AMDAL        

                AMDAL merupakan singkatan dari Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. Menurut Wikipedia Indonesia, AMDAL adalah suatu kajian mengenai dampak besar dan penting suatu usaha dan/ atau kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha dan/ atau kegiatan di Indonesia (Peraturan Pemerintah No. 27 tahun 1999 tentang AMDAL).

                Hal – hal yang dikaji dalam proses AMDAL, yaitu aspel – aspek fisiki-kimia, ekologi, sosial-ekonomi, sosial-budaya dan kesehatan masyarakat sebagai pelengkap studi kelayakan suatu kegiatan atau usaha.

2.       Pengertian UKL & UPL

                UKL (Upaya Kelola Lingkungan) dan UPL (Upaya Pemantauan Lingkungan) merupakan suatu upaya pengelolaan lingkungan bagi penanggung jawab kegiatan dan/ atau usaha yang tidak wajib melakukan AMDAL (Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 86 tahun 2002 tentang Pedoman Pelaksanaan Upaya Pengelolaan Lingkungan). Maka dari itu, UKL dan UPL merupakan salah satu persyaratan perijinan bagi pemrakarsa yang akan melaksanakan suatu usaha dan/ atau kegiatan tersebut.

 Antara AMDAL dengan UKL & UPL

                AMDAL diberlakukan bagi  instansi yang akan melakukan perencanaan suatu proyek yang diperkirakan akan memberikan dampak/ pengaruh bagi lingkungan hidup disekitarnya. Maka bisa dikatakan bahwa fungsi utama AMDAL adalah sebagai bahan perencanaan pembangunan wilayah, untuk menentukan apakah bangunan sejauh mana bangunan tersebut memberikan dampak yang besar bagi lingkungan hidup disekitarnya. Perlu di ingat bahwa kerusakan alam di bumi ini sebanyak 45% (tahun 2007) merupakan sumbangan dari bidang konstruksi. Maka dari itu, AMDAL ini sangat penting dilakukan alias wajib untuk membantu menetukan bagaimana penyusunan desain yang baik dan rinci tanpa merusak alam lebih buruk.

                Pihak – pihak yang terlibat dalam proses AMDAL itu sendiri adalah komisi penilai AMDAL, pemrakarsa (orang yang bertanggung jawab atas usaha dan/ atau kegiatan yang dilaksanakan) dan masyarakat yang terpengaruh atas segala bentuk keputusan dalam proses keputusan AMDAL.

                UKL dan UPL juga diberlakukan bagi instansi yang akan melakukan suatu proyek, tetapi bedanya dengan AMDAL, yaitu UKL dan UPL dibuat untuk proyek – proyek yang dampak lingkungannya masih dapat di atasi, skala pengendaliannya kecil dan tidak kompleks, hal itu dikarenakan teknologi yang dapat mengelola itu semua.

                Prosedur  dan proses UKL dan UPL juga berbeda dengan AMDAL, yaitu menggunakan formulir yang berisi, sebagai beriku.

a.       Indentitas pemrakarsa.

b.      Rencana usaha dan/ kegiatan.

c.       Dampak lingkungan dan pemantauan lingkungan hidup.

d.      Tanda tangan dan cap.

Yang kemudian diberikan kepada instansi penanggung jawab dibidang pengelolaan lingkungan hidup kabupaten/ kota, instansi penanggung jawab dibidang pengelolaan provinsi dan instansi penanggung jawab pengendalian dampak lingkungan untuk kegiatan yang berlokasi lebih dari satu provinsi/ lintas batas negara.

Kamis, 18 Oktober 2012

ARISTEKTUR HIJAU


      A.     Latar Belakang

Belakangan ini kita semakin sering mendengar istilah Global Warming dan rumah kaca. Isu lingkungan seperti krisis energy pun terus muncul ke permukaan dalam berbagai kesempatan. Bumi memang tengah memasuki masa krisis. Wajar jika isu – isu lingkungan semakin gencar disuarakan, sebab kerusakan lingkungan yang amat dahsyat membuat bumi beserta isinya menderita. Salah satu tanda rusaknya alam adalah tingginya kadar karbon dioksida (CO2) di udara, yang di hasilkan oleh industri dan konstruksi.

Apa Saja Penyebab Perusakan Lingkungan?

1.      Jumlah Manusia yang Bertumbuh

Jumlah penduduk terus bertambah. Tentu kita dapat merasakan bahwa kota tempat kita tinggal semakin sempit dan ramai setiap harinya. Kepadatan penduduk menyebabkan kebutuhan konsumsi tinggi. Di pihak lain, daya pikat kota besar membuat penduduk lebih tertarik pergi dan bekerja di kota. Hal ini menyebabkan infrastruktur desa terbengkalai dan kota besar berkembang secara tidak terarah.

2.      Eksploitasi dan Konsumsi yang Berlebihan

Contohnya kita bias liat dalam skala rumah tangga. Apabila dulu orang sudah merasa cukup hanya dengan memiliki hunian secukupnya dengan taman luas maka saat ini, area hijau tidak lagi menjadi prioritas. Yang utama adalah kenyamanan tinggal, alat elektronik modern serta sambungan telekomunikasi.

3.      Sumber Daya Tak Terbarukan

Banyak sumber daya alam yang digunakan untuk kebutuhan manusia dan konstruksi. Sayangnya, sumber daya alam tersebut merupakan sumber daya alam yang tak terbarukan. Contohnya biji besi, baja, batu dll. Tak mengherankan, eksploitasi besar – besaran terhadap sumber daya yang di lakukan terus menerus dan tidak terkendali membuat kita kehabisan sumber daya dengan cepat.

4.      Proses Pengolahan dan Transportasi

Hal tersebut di karenakan bahan dasar material yang memanfaatkan sumber daya alam, proses pengambilannya pun membutuhkan energi atau bahan bakar dalam jumlah banyak. Kemudian, material ini harus di angkut dari tempat pengolahan ke tempat konstruksi. Selain membutuhkan energi dan bahan bakar, semua proses tersebut juga menimbulkan emisi atau gas buangan hasil proses pembakaran energi.

5.      Pemanasan Global

Fakta global warming saat ini sangat mengkhawatirkan. Al-Gore lewat filmnya “Inconvenient Truth” mengemukakan data – data yang mengejutkan. Semenjak revolusi industry, dalam waktu krang dari 20 tahun, suhu bumi meningkat 2 derajat. Pada 2100, disinyalir akan naik 58 derajat celcius.

6.      Konstruksi, Penyumbang Kerusakan Lingkungan Terbesar!

Sangat ironis! Pembangunan atau konstruksi yang selayaknya di lakukan untuk meningkatkan kualitas hidup manusia justru menjadi penyumbang kerusakan alam terbesar. Secara global, sektor konstruksi mengonsumsi 50% sumber daya alam, 40% energi dan 16% air. Konstruksi juga menyumbangkan emisi CO2 terbanyak , yaitu 45%.

Kontribusi bidang konstruksi terhadap kerusakan alam, yaitu sebagai berikut.

a.       Pengambilan material

b.      Proses pengolahan material

c.       Distribusi material jadi dari sumbernya ke pemakai

d.      Proses konstruksi

e.       Pengambilan lahan untuk bangunan

f.       Konsumsi energi sampai di mulai saat bangunan dipakai.

Lalu apakah kita harus menghentikan pembangunan konstruksi? Tentu saja buka itu jalan keluarnya. Karena manusia pada dasarnya memang membutuhkan bangunan untuk berlindung dan melakukan kegiatan. Yang paling tepat adalah kita harus melakukan pembangunan secara bijaksana. Salah satu caranya adalah dengan menerapkan green architecture atau arsitektur hijau.

B.   Pengertian Arsitektur Hijau
Arsitejtur Hijau adalah suatu pendekatan pada bangunan yang dapat meminimalisasi berbagai pengaruh buruk yang disebabkan proses konstruksi terhadap lingkungan alam maupun manusia dan menghasilkan tempat hidup yang lebih baik dan lebih sehat, yang memanfaatkan sumber daya alam secara efisien dan optimal
 
C.     Penerapan Arsitektur Hijau
Dalam menerapkan arsitektur hijau, ada beberapa hal yang perlu di perhatika, yaitu sebagai berikut.
1.      Material
a.       Dari mana dan bagaimana produsen mengambil lahan dasar material
Material yang berasal dari sumber alam yang dapat diperbaharui, misalnya kayu atau bambo, seyogyanya di ambil dari pohon atau tanaman industri yang memang dipelihara untuk memenuhi kebutuhan konstruksi. Sedangkan untuk penggunanaan material yang tidak dapat diperbaharui seperti logam, gunakanlah secara bijaksana. Selain itu, produsen alumunium dan baja seharusnya juga memiliki teknologi daur ulang. Dengan demikian secara tak langsung kita dapat menghemat sumber daya alam.
b.      Transportasi bahan dasar material
Transportasi bahan dasar atau bahan mentah dari lokasi asal ke pabrik dan dari pabrik ke tempat berlangsungnya konstruksi memang tidak bisa di hindari. Namun, dampak buruk dari aktivitas tersebut dapat di kurangi dengan memperpendek jarak pabrik dan lokasi penambangan atau penggalian. Singkat kata, pilihlah material dengan transportasi terpendek.
2.      Proses Pembangunan Konstruksi
a.       Mengoptimalkan penggunaan material termasuk sisanya
Dengan perencanaan yang matang, kelebihan material dapat dihindari. Jika ada sisa pun material tetap dimanfaatkan sehingga tidak terbuang percuma. Misalkan, sisa batu bata bias dijadikan media menanam tanaman.
b.      Reuse dan recycle
Banyak keuntungan yang bisa kita peroleh dari memakai material bekas. Contoh material bekas yang gampang ditemukan adalah penutup jendela, lantai, pintu dan berbagai fitting. Penggunaan bahan daur ulang juga memiliki banyak manfaat, yaitu mengurangi konsumsi bahan mentah dan energy, mengurangi limbah dan menjaga kondisi bumi. Alumunium hasil daur ulang merupakan contoh material yang signifikan tingkat penghematan energinya, yaitu mencapai 95% dibandingkan alumunium baru.
3.      Penggunaan Air
Memanfaatkan material bangunan yang tidak memerluakan atau hanya mengonsumsi sedikit air – misalnya GRC untuk dinding – sangat di anjurkan. Jika harus menggunakan dinding beton yang dalam campurannya membutuhkan air, sedapat mungkin disediakan tangki air hujan terlebih dahulu di lokasi pembangunan. Air hujan dari bak penampung bisa dimanfaatkan untuk menurukan biaya konstruksi sekaligus menjalankan upaya konservasi air bersih. 
 
Pada intinya, konsep arsitektur hijau adalah suatu harnonisasi antara alam dengan bangunan. Bangunan merupakan hal terpenting dalam keberlangsungan hidup manusia sebagai tempat berlindung, sedangkan alam adalah tempat semua yang dibutuhkan manusia berada, sehingga antara bangunan dan alam harus memiliki keseimbangan atau harmonisasi untuk kepentingan seluruh umat manusia bersama. Oleh karena itu, mari terapkan arsitektur hijau sekarang!
 
*) presentasi Alex Buechi pada Sustainable Construction Workshop, 24-25 Juni 2007
 
http://www.gunadarma.ac.id

Rabu, 17 Oktober 2012

ARSITEKTUR LINGKUNGAN

 
 
 
A. Definisi Arsitektur Lingkungan
 
Definisi jasa arsitektur menurut Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) 2005 adalah jasa konsultasi arsitek, yaitu mencakup usaha seperti: desain bangunan, pengawasan konstruksi, perencanaan kota, dan sebagainya.
Selain definisi di atas, terdapat beberapa definisi arsitektur berasal dari sumber acuan lainnya, yaitu:
  1. Berdasarkan kamus, kata arsitektur (architecture ), berarti seni dan ilmu membangun bangunan. Menurut asal kata yang membentuknya, yaitu Archi = kepala, dan techton = adalah karya kepala tukang. Arsitektur dapat pula diartikan tukang, maka architecture sebagai suatu pengungkapan hasrat ke dalam suatu media yang mengandung keindahan.
  2. Berdasarkan anggaran dasar Ikatan Arsitektur Indonesia, arsitektur didefinisikan sebagai wujud hasil penerapan pengetahuan, ilmu, teknologi, dan seni secara utuh dalam menggubah ruang dan lingkungan binaan, sebagai bagian dari kebudayaan dan peradaban manusia.
  3. Berdasarkan wikipedia, arsitektur adalah aktivitas desain dan membangun sebuah gedung serta struktur fisik lainnya, yang memiliki tujuan utama untuk menyediakan tempat berteduh bagi kepentingan sosial. Dalam definisi yang lebih luas, arsitektur juga meliputi desain dari keseluruhan lingkungan bangunan, dari level makro, yaitu bagaimana bangunan dapat bersatu dengan bentang di sekitarnya sampai dengan tingkat mikro dari arsitektur atau detil konstruksi, misal: furnitur.
Definisi asitektur sebenarnya sangatlah luas. Definisi arsitektur pun hingga saat ini masih sering diperdebatkan. Tetapi dalam rangka pengembangan peta jalan pengembangan industri arsitektur ini, maka arsitektur didefinisikan sebagai wujud hasil penerapan pengetahuan, ilmu, teknologi, dan seni secara utuh dalam menggubah ruang dan lingkungan binaan, sebagai bagian dari kebudayaan dan peradaban manusia, sehingga dapat menyatu dengan keseluruhan lingkungan ruang dari tingkat makro sampai dengan tingkat mikro.
Pada skala makro, arsitektur berkaitan dengan perencanaan tata kota (town planning, hingga perencanaan transportasi, urban/rural planning ), landscape planning, urban design. Sedangkan dalam skala mikro dimulai dari perencanaan interior ruangan hingga bangunan termasuk eksterior maupun taman.
 
Definisi lingkungan adalah kombinasi antara kondisi fisik yang mencakup keadaan sumber daya alam seperti tanah, air, energi surya, mineral, serta flora dan fauna yang tumbuh di atas tanah maupun di dalam lautan, dengan kelembagaan yang meliputi ciptaan manusia seperti keputusan bagaimana menggunakan lingkungan fisik tersebut.
Lingkungan terdiri dari komponen abiotik dan biotik. Komponen abiotik adalah segala yang tidak bernyawa seperti tanah, udara, air, iklim, kelembaban, cahaya, bunyi. Sedangkan komponen biotik adalah segala sesuatu yang bernyawa seperti tumbuhan, hewan, manusia dan mikro-organisme (virus dan bakteri).
 
Dari uraian di atas, dapat di katakan bahwa definisi arsitektur lingkungan adalah ilmu bangun membangun yang berkaitan dengan perencanaan tata kota, landscape planning, urban design, interior maupun eksterior yang memperhatikan kondisi fisik sumber daya alam, yang meliputi air, tanah, udara, iklim, cahaya, bunyi dan kelembapan. Arsitektur lingkungan sangat berkaitan erat dengan arsitektur hijau (green architectur) karena sama - sama berhubungan dengan  sumber daya alam.
 
B. Aspek - aspek yang Mempengaruhi
 
Dalam mengusung tema Arsitektur Lingkungan, ada beberapa aspek yang mempengaruhi, yaitu sebagai berikut.
1. Material Organik
Material yang di maksud secara ekologi adalah material yang ramah lingkungan, dan mudah di dapat, sebenarnya tidak larangan jika harus menggunakan bahan – bahan modern yang ada, hanya saja volume penggunaan yang harus ada kesepakatan, di samping bahan konvensional secara umum dan moderen , material Ekologis secara spisifikasi dapat kita bedakan sebagai berikut:
- Pondasi, dapat menggunakan material : batu kali, batu gunung, kayu / bamboo sebagai pasak bumi
- Dinding, dapat menggunakan bahan bamboo, batu bata, kayu, tanah liat,bahan daur ulang dari  
  kertas
- Jendela, dapat menggunakan kayu, bamboo, kertas, ( secara teknis dapat kita gunakan sebagai tirai
  atap, dapat menggunakan daun – daunan, bamboo,kayu, dan lainnya
 
 2. Sirkulasi Udara

Bangunan Ekologi secara umum memaksimalkan sirkulasi udara secara alami dan memminimalkan penggunaan udra buatan seprti AC, Kipas angin, Exhause, dll. Jendela serta ventelasi yang di terapkan pada bangunan haru s juga di sesuai dengan arah angin, penerapan atap bangunan tradisional adalah salah satu solusi untuk memberikan kenyamanan dalam ruang,atap yang tinggi juga membuat udara dapat mengatur pola sirkulasinya, Angin juga berlaku dapat kasar terhadap lingkungan serta fisik bangunan,jadi perlu di adakan antisipasi terhadap pengaruh negative angin, seperti, pembuatan ventilasi / bukaan secara maksimal, pemasangan tirai – tirai, penaman pohon – pohon atau tanaman yang sesuai dengan kondisi lingkungan.
 
3. Bentuk Masa Bangunan

Bentuk masa bangunan secara ekologi, yaitu pengadopsian bentuk – bentuk yang ramah lingkungan, seperti : Bentuk Arsitektur Tradisional local, Bentuk masa bangunan lebih terbuka sehingga ada keterikatan antara lingkungan dan bangunan atau sebaliknya, di mensi bangunan di olah semaksimal mungkin sehingga tidak terjadinya perbedaan yang mencolok terhadap bangunan penduduk local, bentuk bangunan juga di sesuaikan dengan material yang di gunakan
4. Penghijauan (Vegetasi)

Penghijauan sangatlah penting untuk tetap terjaganya kualitas lingkungan yang berkelanjutan, penerapan bangunan di daerah – daerah lingkungan hutan yang terjaga dan di lindungi dapat menimbulkan resiko yang berpotensi terhadap kerusakan lingkungan, seperti yang telah kita bahas di atas, bahwa perencanaan bangunan harus di melalui studi lingkungan terlebi dahulu.
 
Arisitektur Lingkungan selain dari pada bentuk masa bangunan, material, tata ruang atau pun nilai kearifan lokal yang ada, juga adalah kepedulian kita sendiri terhadap bangunan tersebut, bagaimana kita mengartikan fungsi dari pada bangunan tersebut,bagaimana kita mengelolanya, dan bagaimana kita merawatnya.
 
 
 

Kamis, 19 April 2012

LANGGAM ARSITEKTUR

Pengertian Langgam
Langgam Arsitektur adalah bagian dari budaya sedangkan budaya adalah hasil karya dari manusia. langgam itu bahasa indonesia dari kata \’style\’, atau kata \’gaya\’ kadang bertabrakan arti dengan \’force\’, contoh \’gaya berat\’ dll. Sejak post modern, para arsitek banyak memperdebatkan tentang langgam ini yang berarti hal yang terkait dengan suatu ciri, bisa berupa budaya, tokoh, peristiwa sejarah, dan lain-lain. sebuah karya arsitektur bisa berlanggam eropa, cina maupun nusantara. bisa berlanggam \’le corbusier\’ yang disebut dengan \’corbusian\’, bisa berlanggam \’era kemerdekaan indonesia\’, dan seterusnya.
Langgam arsitektur memiliki banyak jenis, seperti langgam arsitektur modern, langgam arsitektur post-modern, langgam arsitektur dekontruksi, langgam arsitektur klasik, langgam arsitektur vernakular dan lainnya, tetapi di bawah ini hanya akan di jelaskan langgam arsitektur klasik dan langgam arsitektur vernakular.
A. Arsitektur Klasik
Langgam Arsitektur klasik adalah gaya bangunan dan teknik mendesain yang mengacu pada zaman klasik Yunani atau Romawi, seperti yang digunakan di Yunani kuno pada periode Helenistik dan Kekaisaran Romawi. Dalam sejarah arsitektur, Arsitektur Klasik ini juga nantinya terdiri dari gaya yang lebih modern dari turunan gaya yang berasal dari Yunani. Saat orang berpikir tentang arsitektur klasik, umumnya mereka berpikir sebuah bangunan yang terbuat dari kayu, batu, dll. Dalam beberapa kasus hal tersebut benar, namun arsitektur klasik juga banyak memiliki nafas modern dan desain gedung yang rumit. Misalnya, atap, tiang, bahkan struktur batu atau marmer dibuat dengan detail sempurna.
Langgam Arsitektur Klasik muncul bersamaan dengan dimulainya peradaban tulisan secara formal. Belum ditemukan secara spesifik kapan era ini dimulai maupun berakhir. Namun, jenis langgam ini banyak dijumpai di benua Eropa. Dalam beberapa alasan, jenis arsitektur dan dibangun dengan tiga tujuan: sebagai tempat berlindung (fungsi rumah tinggal, sebagai wadah penyembahan Tuhan (fungsi rumah peribadatan) dan tempat berkumpul (balai kota, dsb). Untuk alasan kedua dan ketiga inilah bangunan ini dibuat sedetail mungkin dan seindah mungkin dengan memberi ornamen-ornamen hiasan yang rumit. Bentuk-bentuk arsitektur klasik masih eksis hingga saat ini dan diadopsi dalam bangunan-bangunan modern.
Seiring waktu berlalu, bangunan menjadi lebih rumit dan lebih rinci. Beberapa peradaban yang tumbuh dari batu dan lumpur turut memperkaya ragam bentuk Arsitektur Klasik, misalnya candi dan kuburan orang-orang Mesir. Bentuk-bentuk arsitektur klasik masih eksis hingga saat ini dan diadopsi dalam bangunan-bangunan modern. Pilar-pilar besar, bentuk lengkung di atas pintu, atap kubah, dsb adalah sebagian ciri Arsitektur Klasik. Ornamen-ornamen ukiran yang rumit dan detail juga kerap menghiasi gedung-gedung yang dibangun di masa sekarang.
B. Arsitektur Vernakular
Arsitektur vernakular, berawal dari arsitektur tradisional, yaitu transformasi dari situasi kultur homogen ke situasi yang lebih heterogen dan berusaha sebisa mungkin menghadirkan citra, bayang-bayang realitas arsitektur tradisional. Rasa hormat pada tradisi “agung” dan “tinggi” biasanya cukup nyata pada arsitektur vernakular. Citra yang disajikan lebih banyak bersandar pada referensi arsitektur “rakyat” daripada terhadap bangunan keagamaan, bangunan milik bangsawan-penguasa dan sejenisnya. Referensi pada arsitektur “rakyat” yang secara fungsional sudah beradaptasi, jitu, teruji terhadap alam tempatnya berada, biasanya lebih memiliki kepekaan baik secara teknis, sosial, dan kultural.
Pada perkembangan mutakhir, di mana heterogenitas kultur menjadi dominan, arsitektur tradisional mengalami lompatan melampaui proses vernakularisasi, dan muncul dalam wujud eklektik (campur aduk) wujud tradisional, tanpa perduli pada tatanan, hirarki makna, pengertian yang terkandung pada wujud “asli”-nya. Kita bisa saksikan, masih di Bali, berbagai tradisi arsitektur, baik tradisi “agung” dan “tinggi”, bahkan juga dari berbagai belahan dunia, dari puncak-puncak kebudayaan sejagat disajikan dalam kehadiran baru di dalam kerangka kultur Bali kontemporer. Lihat saja daerah Kuta.
Arsitektur vernakular adalah sumber daya setempat yang dibangun dengan teknologi sederhana untuk memenuhi kebutuhan khusus yang mengakomodasi nilai ekonomi dan tatanan budaya masyarakat setempat. Proses rancang arsitektur vernakular dilandasi oleh pemikiran rasional dan spiritual. Masyarakat menghargai arsitek vernakular sebagai wujud dari budaya dan kepercayaan masyarakat yang di aplikasikan ke dalam bangunan. Merancang dengan potensi arsitektur vernakular berarti mencari karakteristik arsitektur dari sebuah wilayah. Menetapkan arsitektur vernakular sebagai sesuatu yang sulit dan berbeda dengan arsitektur masa kini akan membuatnya semakin ditinggalkan oleh generasi muda arsitek. Arsitektur vernakular sendiri dianggap tidak mampu menjadi daya tarik pada masa modern saat ini. Mereka menganggap bahwa arsitektur modern lebih membudaya saat ini.
Namun, jika arsitektur vernacular di padukan dengan arsitektur modern, maka akan lebih menarik. Baik asli maupun paduan, baik diterapkan dalam aspek rinupa maupun tanrinupa, karya arsitektur masa kini yang sudah berusaha dirancang dengan penggalian adat dan budaya nusantara pantas disebut sebagai arsitektur vernakular.
Arsitektur vernacular yang mengambil konsep-konsep kebudayaan ini juga dapat mempertahankan karakteristik dari daerah tersebut. Sehingga nilai-nilai kebudayaan pada daerah tersebut tidak hilang dan dapat dilestarikan. Selain itu, penerapan konsep arsitektur vernakular juga mengurangi pemakaian energi yang berlebihan. Ini di karanakan arsitektur vernakular lebih menggunakan material-material yang ramah lingkungan, dan dapat diperbaharui seperti kayu. Sehingga kesan budaya yang ditimbulkan pada arsitektur vernakular lebih muncul dengan pemakaian material kayu tersebut. Selain itu, arsitektur vernakular yang merupakan wujud baru dari arsitektur tradisional juga akan berorientasi pada kondisi alam sekitar. Sama halnya seperti arsitektur tradisional pada zaman dulu. Sehingga dapat mengurangi penggunaan pencahayaan dan pendinginan buatan.
Penggabungan konsep arsitektur vernakular dengan konsep arsitektur lainnya dapat menjadikan suatu wujud perkembangan arsitektur saat ini tanpa meninggalkan budaya suatu wilayah yang sudah ada sejak lama. Sehingga semakin memperkaya konsep arsitektur. Penerapan konsep arsitektur vernakular juga menjadikan arsitek lebih menghargai budaya dikarenakan arsitek lebih mengetahui proses terjadinya budaya pada suatu wilayah dari hasil pencarian dari dasar budaya pada wilayah yang akan digunakan untuk penerapan konsep arsitektur vernakular.

Sumber :

(http://conanarsitektur07.blogspot.com; http://wikipedia.com/arsitektur-klasik; http://blogdetik.com/drag_guardian; http://silabanbrotherhood/gaya-gaya-arsitektur; http://topnews.com/5-bangunan-terunik-di-dunia)